WAJO, RRN – Di tengah derasnya arus informasi dan pemberitaan yang menggema dari berbagai penjuru, nama Belawa akhir-akhir ini terasa begitu sering disebut. Sayangnya, bukan karena keindahannya, bukan pula karena prestasinya—melainkan karena kabar-kabar kelam yang membuat dahi berkerut dan hati miris.
Lanjut, Belawa bukan tanah kosong tanpa nilai. Ia adalah bumi yang telah lama ditaburi benih iman dan ilmu. Anak-anak kecil di Belawa tak hanya sibuk dengan gawai—mereka juga sibuk menghafal Al-Qur’an. Tak sedikit di antara mereka yang hari ini berdiri menjadi imam sholat, memimpin rakaat demi rakaat di masjid-masjid kampung, dengan hafalan yang menakjubkan.
Bukan hanya anak-anak. Dari tanah Belawa juga lahir ulama-ulama kharismatik—yang mengajarkan ilmu dengan akhlak, yang membimbing dengan kelembutan, yang tak mencari panggung tapi mencetak perubahan.
Salah satu gerakan paling menggetarkan dari Belawa adalah Sholat Subuh Berjamaah, yang rutin dilanjutkan dengan Sholat Isyraq. Ini bukan sekadar kegiatan, tapi gerakan jiwa. Banyak anak-anak yang dengan semangat bangun sebelum fajar demi hadir ke masjid. Sebagai bentuk motivasi awal, sempat diberikan hadiah-hadiah kecil bagi mereka yang rajin—bukan untuk membeli niat, tapi untuk memicu semangat dan cinta kepada ibadah.
Memang, sempat terjadi pro dan kontra. Sebagian mempertanyakan niat di balik hadiah. Namun kami percaya: hadiah hanyalah jalan—bukan tujuan.
Tak hanya itu. Belawa juga pernah menggerakkan pembagian mushaf Al-Qur’an ke seluruh ruang kelas. Setiap kelas mendapat satu mushaf. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, ayat-ayat suci dibacakan bersama. Dan sebelum pulang, sholawat dilantunkan oleh seluruh pelajar—membuat sekolah bukan hanya tempat ilmu, tapi tempat hati menjadi tenang.
Kini, semangat itu ingin kami hidupkan kembali. Belawa bersiap menyelenggarakan berbagai kegiatan keislaman.
Ini bukan hanya soal menang dan kalah, tapi tentang mewariskan kebanggaan, memperkenalkan keindahan Islam dengan cara yang membahagiakan.
Maka izinkan saya menyampaikan:
Saatnya Belawa berbenah.
Saatnya kita memulihkan cahaya yang tertutup debu. Saatnya kita berhenti hanya menunjuk gelap—dan mulai menyalakan lentera.
Karena satu orang yang menyalakan lilin, Lebih berarti daripada seribu yang hanya mengutuk kegelapan.
Sebagai Ketua Aliansi Media Jurnalis Independen Republik Indonesia (AMJI-RI) Sulsel, saya menyerukan kepada seluruh insan pers:
Mari kita hadirkan pemberitaan yang utuh. Jangan hanya mengejar rating dengan kabar negatif, dan jangan pula menutupi fakta. Tapi mari kita hadirkan narasi yang adil, jujur, dan menyejukkan. Karena media bukan hanya saksi, tapi juga penentu arah.
Kita semua bertanggung jawab atas cerita apa yang dibaca generasi berikutnya.
Dan mungkin, yang dibutuhkan hanyalah keberanian kita untuk melihat sisi yang sering terlewatkan.

(Oleh: Hamka Hamid
Ketua DPW AMJI-RI Sulawesi Selatan)





