Dituduh Gelembungkan Siswa, Oknum Kepala Sekolah Marah Ke Wartawan

KONAWE, RRN – Sikap arogan kembali dipertontonkan oleh seorang oknum kepala sekolah. Adalah Syakhiruddin, S.Pd., Kepala SMKN 3 Konawe yang marah-marah saat menerima wartawan di rumahnya di Kelurahan Lambuya, Kecamatan Lambuya, Kab. Konawe, Sultra, Jum’at, 23/2/2024.

Sakhiruddin marah karena tidak terima dirinya dituding telah mengelembungkan jumlah siswa dalam Dapodik (Data Pokok Pendidikan) untuk laporan menerimaan Dana Biaya Operasiaonal Sekolah (BOS) Tahun Ajaran 2023/2024.

Berdasarkan pantauan awak media, telah terjadi selisih antara jumlah penerima Dana BOS dan jumlah real siswa aktif berdasarkan absensi kelas.

Sebagaimana yang dilaporkan Kepala SMKN 3 Konawe dalam Dapodik, siswa laki-laki berjumlah 53 orang dan siswa perempuan sebanyak 34 orang sehingga total jumlah siswa sebanyak 87 orang.

Namun setelah dicocokkan dengan absensi siswa aktif di masing-masing kelas, ditemukan jumlah yang berbeda. Dari 6 rombel (rombongan belajar) yang ada, secara keseluruhan jumlah siswanya hanya 54 orang. Jadi berdasarkan data tersebut maka ditemukan fakta bahwa telah terjadi penggelembungan jumlah siswa sebesar 33 orang.

Kalau diasumsikan bahwa besaran BOS persiswa SMK adalah Rp 1.600.000,- dikalikan selisihnya 33 orang maka akumulasinya adalah Rp 52.800.000,-.

Artinya diduga telah terjadi kerugian keuangan negara di sekolah tersebut sebesar Rp 52.800.000,- untuk Tahun Ajaran 2023/2024. Sebuah jumlah yang sangat fantastis.

Nah, ketika hal ini coba dikonfirmasi oleh wartawan via WhatsApp, Syakhiruddin membuat janji untuk dikunjungi di rumah kediamannya.

Maka datanglah 3 orang wartawan yang sebelumnya sudah berkunjung ke SMKN 3 Konawe antara lain Andry Wiliam Firdaus, SE., dari Palapa TV, Sahrul Tosepu wartawan Liputan 4 dan Arifin, SE., dari media ini.

Setelah ketiganya datang sesuai janji, mantan Kepala SMA Meluhu ini justru keluar menemui wartawan dalam keadan tidak pakai baju atau telanjang dada sambil marah-marah dan menunjuk-nunjuk ke arah ketiganya sambil menanyakan legalitas masing-masing dan dari media mana saja.

Yang bersangkutan emosi dirinya dituding melakukan penggelumbungan siswa apalagi dituduh korupsi Dana BOS.

Emosinya semakin memuncak setelah melihat Andry awak Palapa TV yang telah menceritakan kepada guru-gurunya bahwa Syakhiruddin pernah dilaporkan ke polisi saat dirinya masih menjadi Kepala SMA Meluhu.

Setelah mengenakan kemeja dan mengajak ke ruang tamu, dia masih saja terlihat marah dan menunjuk-nunjuk wartawan sambil berkata dengan keras.

“Kamu tau ji saya Andry toh..? Saya juga ini keluarga preman. Kalau saya tau tadi ini kalian yang habis singgah di sekolahku minta-minta absen kelas dan kalian foto-foto, maka saya akan tarekan parang kalian,” ancamnya sambil mengetuk meja dengan keras.

Melihat hal ini, Andry masih terlihat tetap tenang sambil berusaha menjelaskan di mana letak kekeliruan oknum kepala sekolah yang terlihat sangat arogan tersebut. Namun tetap saja dia tidak terima dirinya dituding telah melakukan penggelembungan siswa.

“Di era digital sekarang sudah tidak mungkin kami kepala sekolah menggelembungkan siswa. Semua sudah saya laporkan dalam Dapodik dengan data valid berdasarkan validasi siswa setiap hari,” ujarnya masih dalam keadaan marah.

Lebih lanjut dia katakan bahwa hal ini akan dilaporkannya ke UPTD Konawe, sambil mengajak Andry, dkk untuk ke Kantor UPTD hari Kamis depan (29/2).

Namun Andry bertekad membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Senin depan (26/2) saya akan laporkan dugaan penggelembungan siswa dan dugaan korupsinya di Polres Konawe,” tegas Andry.

(Arifin,SE)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *