Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Pelecehan Seksual Anak, Pelaku Oknum Guru Di SMPN 1 Tolitoli

oleh -89 views

TOLITOLI, RRN – Kasus viral pelecehan seksual oknum guru SMPN 1 Tolitoli berinisial Ms terhadap siswinya sebut saja mawar (bukan nama sebenarnya, Red.) yang sudah ditangani Polres Tolitoli sejak September 2022 lalu, hingga kini belum juga sampai ke tahap penyidikan. Ada apa ?

Mirisnya, dalam kronologis kejadian saat kasus ini dilaporkan menyebutkan bahwa, Ms yang tercatat sebagai guru senior ini, ternyata nekad melakukan pelecehan dengan cara mencubit bagian sensitif tubuh korban. Akibatnya, secara psikologis korban mengalami depresi, suka menyendiri, dan merasa tertekan pasca kejadian.

Dalam agenda pemeriksaan lanjutan, Satreskrim Polres Tolitoli Rabu (28/12/2022), kuasa hukum korban Arina Silviana SH, MH,CPCLE meminta Polres Tolitoli agar segera memberikan kepastian status hukum terhadap kliennya.

Kepada wartawan Arina menjelaskan, dalam perkara hukum pidana pada umumnya yang harus dikejar tim penyidik dalam penanganan kasus adalah terpenuhnya unsur pidana.

“Dalam kasus ini saya menilai unsur pidananya telah terpenuhi, ada dua bukti yakni keterangan saksi korban dan keterangan saksi ahli. Saksi ahli dimaksud yakni ahli psikolog. Selain itu ada juga bukti petunjuk, dimana beberapa saksi mengungkapkan benar ada peristiwa itu, dan korban kembali ke tempat duduk sepulangnya dari meja guru dalam keadaan menyilangkan tangan di dada. Nah kalau sudah terpenuhi bukti yakni keterangan korban dan saksi ahli, ditambah dengan bukti petunjuk, harusnya sudah cukup pak,” ulasnya.

Ditambahkan, dalam kasus tindak pidana pencabulan atau pelecehan seksual, menurut dosen hukum pidana Universitas Madako dan mahasiswi doktoral ilmu hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, tidak mesti harus memerlukan keterangan saksi yang melihat langsung.

“Tidak mesti harus ada saksi yang melihat sebab ini kasus pelecehan, ya bagaimana dengan semua kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi di Indonesia, artinya pelaku pelecehan seksual akan merasa aman dari perbuatannya, sebab tidak ada saksi yang melihat,” timpalnya.

Selain itu, Arina juga sangat berharap Polres Tolitoli tidak kaku dalam menangani kasus seperti ini, dan banyak belajar dari daerah lain dengan kasus yang jauh lebih banyak dan tertangani secara tegas sesuai hukum yang ada.

“Saya selaku akademisi dan praktisi menilai, seharusnya kasus ini bisa dinaikkan ke tahap penyidikan, dan kami berharap Polres Tolitoli sedikit tercerahkan dengan contoh kasus di daerah lain, sebab di Tolitoli ini kasus pertama ya kan, jadi jangan kakulah.

Apalagi, akibat kasus ini, korban mengalami gangguan psikis,” ucap dosen yang saat ini tengah menyusun Disertasi berjudul “Penyelesaian Kasus Tindak Pidana Kekerasan Seksual Berbasis Kepentingan Korban” di UNS.

Sependapat dengan pandangan hukumnya, Arina mengaku beberapa penegak hukum di Jakarta juga ikut memberikan penilaian yang sama, yakni kasus tersebut layak untuk dilanjutkan ke tingkat penyidikan, serta tuntas hingga meja hijau.

Terpisah, ibu korban berinisial Mi mengaku, mawar anaknya memang mengalami gangguan psikis. “Benar pak, anak saya terganggu jiwanya, sering menyendiri, kadang melamun, bahkan saat di kelas tangannya spontan disilangkan di dada,” ujar Mi dengan mata berkaca-kaca.

Dikonfirmasi soal penanganan kasus mawar, Kasat Reskrim Polres Tolitoli Iptu Ismail SH menyebutkan, berdasarkan surat Nomor: B/759/X/2022/Reskrim, tanggal 26 Oktober 2022, penyidik telah mengirimkan surat kepada Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan anak (PPA) Sulawesi Tengah perihal Permohonan Pemeriksaan Psikolog klinis korban pada tanggal 02 Desember 2022. Kemudian, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Sulteng UPT Perlindungan Perempuan dan Anak telah mengirimkan hasil pemeriksaan psikologis korban.

Selain itu, tim penyidik juga membantu melakukan koordinasi dengan ahli pidana di Kota Palu terkait dengan hasil pemeriksaan psikologis korban.

Kemudian, pada hari Senin tanggal 26 Desember 2022, bertempat di ruang Kasat Reskrim, Penyidik pembantu melaksanakan gelar perkara sehubungan dengan hasil pemeriksaan saksi-saksi. Dan dari hasil koordinasi dengan ahli pidana, serta hasil gelar perkara, maka penyidik pembantu menyimpulkan untuk dilakukan pemeriksaan tambahan terhadap korban dan saksi-saksi lainnya guna melakukan pendalaman terkait hasil pemeriksaan psikologis korban.

(ASR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *