KONSEL, RRN – Desa Teporombua, Kecamatan Basala, Kabupaten Konawe Selatan merupakan desa yang cukup maju di bawah kepemimpinan Hasanuddin.
Sejak dimekarkan, Desa Teporombua sudah dipimpin oleh Hasanuddin berdasarkan penunjukan Bupati Konsel saat itu alm. Drs. H. Imran, M.Si.
Dibawah nahkoda Hasanuddin, Desa Teporombua mulai mengalami kemajuan.
Selama 2 tahun sebagai Pejabat Kepala Desa, Hasanuddin melakukan banyak gebrakan hingga akhirnya terpilih sebagai Kades Definitif.
Di tahun 2021, beliau sekeluarga mendapatkan ujian karena terpapar Covid-19. Namun akhirnya mereka sekeluarga dapat sembuh dari Covid berkat keteguhan dan kedisiplinan beliau menjalani beberapa rangkaian sesi pengobatan.
Desa Teporombua adalah desa dengan mayoritas penduduknya adalah petani sawah. Potensi persawahannya mencapai ratusan hektar.
Namun sayang, potensi itu seakan tersia-siakan karena areal tersebut adalah Sawah Tadah Hujan karena di sekitaran desa tersebut dan beberapa desa tetangga lainnya tidak difasilitasi dengan pengairan atau bendungan yang dapat mengairi sawah mereka.
Hal inilah yang selalu menjadi keluhan masyarakat di Kecamatan Basala.
Luas areal persawahan yang sangat potensial ditunjang dengan etos kerja masyarakatnya yang sangat tinggi, tidaklah berbanding lurus dengan kebutuhan warga akan fasilitas pengairan dari pemerintah kabupaten dalam hal ini dari Dinas PU maupun dari Dinas Pertanian.
“Kami sangat harapkan uluran tangan Pemda Konsel maupun Pemprov Sultra, khususnya Dinas PU Pengairan, untuk dibangunkan Bendungan di Sungai Roraya yang terletak di Desa Polo-Pololi, Kecamatan Basala, Kab. Konawe Selatan untuk mengairi areal persawahan di 5 desa di Kecamatan Basala, yaitu Desa Polo-Pololi, Desa Lipu Masagena, Desa Teporombua, Desa Epe Esi dan Desa Iwoi Mendoro dengan estimasi seluas 1500 Ha sawah basah,” jelas Hasanuddin.
“Kalau saja ada saluran tersier maupun sekunder yang menuju areal persawahan kami ini, maka saya sangat yakin kalau nilai jual sawah di sini akan semakin hari semakin mahal. Tidak seperti sekarang ini, beberapa warga sudah mulai jenuh bersawah dan beralih profesi sebagai pekebun dengan menanami lahannya dengan pohon kelapa sawit, sehingga besar kemungkinan nilai jual tanahnya ke depan akan menurun,” pungkasnya.
(ARIFIN, SE)


