Pasca Banjir Bandang Ada 4 Desa Yang Terdampak, dan Ini Pengakuan Warga

LUTRA. RRN- Pasca Banjir Bandang di Kabupaten Masamba. Sekira pukul 10: 05 Wita. Tanggal 18 Juli 2020, pantauan media RadarreportaseNews. Co. Id., di lokasi banjir bandang tepatnya di Desa Radda Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Dari pantauan, aktivitas berupa alat berat nampak melakukan pengerukan di wilayah tersebut, hingga kendaraan roda enam dilibatkan dalam proses pengangkutan material.

Informasi yang dihimpun, bahwa daerah pengerukan itu diduga adanya genangan air hingga lutut orang dewasa. Sehingga, dari pihak TNI- Polri begitu intens melakukan pengawasan untuk kendaraan yang hendak masuk di wilayah tersebut atau buka tutup, dan tidak diperkenankan masuk di area tersebut bagi yang tidak berkepentingan.

Selain itu, Posko Wilayah Kodim 1403/Swg, dan Dapur Umum Pemkot Palopo  yang terletak kurang lebih 250 meter dari area pengerukan, nampak aktivitas yang tak terputus, baik proses pengawasan, penjagaan serta penerimaan bantuan, masak memasak dan pemeriksaan kesehatan.

Dampak dari banjir bandang di Masamba juga berdampak di Desa lainya yakni Desa Sabbang Kecamatan Sabbang. Informasi yang dihimpun oleh media RadarReprtaseNews. Co. Id., di Kecamatan Sabbang terdiri dari 10 Desa dan memiliki sungai yang biasa disebut Sungai Rongkong.

Dari 10 Desa, ada 4 Desa yang mengalami dampak akibat banjir bandang pada tanggal 13 Juli 2020.

Kepala Desa Sabbang Amir Jaya, saat ditemui di posko bantuan, yang terletak di pinggir jalan poros, yang juga tak jauh dengan dengan dapur umum dan jembatan sabbang, menjelaskan bahwa serta menguatkan bahwa di Kecamatan Sabbang memiliki 10 Desa dan 4 Desa yang terdampak.

” Dari 10 Desa. Empat Desa tersebut yakini Desa Sabbang, Desa Salama, Desa Malimbung, dan Desa Pengkendekan yang terdampak banjir bandang. ” Ujar Amir Jaya

” Untuk data riilnya, jumlah KK sebanyak 145 yang terdampak, dan kami sudah laporkan kepada pihak Pemda setempat. ” Ungkapnya

Alhamdulillah untuk kebutuhan pokok sampai saat ini masih normal, dan belum ada posko pengungsian. Namun, kami tetap siaga, sebab cuaca belum bersahabat.

Sementara itu di lokasi Bentaran Sungai, tepatnya di Dusun Maongan dan Dusun Sabbang Desa Sabbang, beberapa rumah milik warga masyarakat rusak. Karena, diduga adanya lumpur yang bercampur pasir masuk kedalam rumah warga, dan gelondongan kayu berupa Batang-batang pohon berada di halaman rumah warga maupun di bibir sungai.

Warga Dusun Maongan Suryadi, yang tinggal di Bantaran Sungai selama 20 tahun mengatakan banjir ini adalah yang terparah.

” Selama banjir, ini banjir terparah, ” Kata Suryadi, lanjutnya, saat banjir terjadi dia berada di dalam rumah bersama istri dan anaknya. ” Imbuhnya

Soal gelondongan, atau berupa kayu besar ? ” Suryadi bahwa itukan dia datang pada waktu banjir .” Ungkapnya

” Kami sekeluarga selamat, Ucap Suryadi, dan soal bantuan untuk makan yah ada. Harapan nya, agar bisa dibantu sedikit,” Cetusnya

Sementara itu warga Dusun Sabbang Desa Sabbang, Pak Sahrul yang juga tinggal di Bentaran sungai bersama istri dan 8 anak, selama kurang lebih 10 tahun berada di wilayah tersebut, ia mengatakan pada saat banjir merasakan penderitaan.

” Syukurlah anak anak selamat, tidak ada korban jiwa. Namun, barang barang habis. ” Ucapnya

Dari banjir tersebut, ” ada satu rumah yang bergeser, yang lain rusak. Harapannya, rumah ini dapat kami bangun kembali.” Pungkasnya

Akibat banjir, diduga sungai terjadi pendangkalan, dan air yang mengalir di sungai itu bercampur lumpur dan pasir.
(By)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *