SULTENGAH, RRN—Tiga jembatan di wilayah kecamatan Lampasio Kabupaten Tolitoli rusak parah akibat diterjang banjir pada minggu (26 /4-2020).
Dan dua jembatan yang menghubungkan Desa Mulyasari dan Desa Maibua ke ibukota kabupaten putus diterjang banjir, jembatan pertama berada di desa oyom dan jembatan kedua posisinya ada di desa maibua, kedua jembatan yang putus kembali dapat digunakan setelah warga dan Pemerintah desa bahu membahu membuat jembatan darurat, menurut warga setempat, harus ekstra hati-hati ketika melewati jembatan dan jika banjir datang lagi, sudah dapat dipastikan kayu sebagai bahan jembatan darurat tersebut pasti akan hanyut terbawa banjir.
Masyarakat Desa Maibua dan Desa Mulyasari sangat mengharapkan agar jembatan-jembatan tersebut segera di ganti dengan jembatan yang baru, Imran, salah satu tokoh masyarakat mengungkapkan, “ bahkan dalam kondisi jembatan normal, setiap banjir jembatan ini ikut tenggelam jadi kami tetap tidak bisa menyebrang, harus menunggu air surut dulu, kalau ada situasi darurat, misalnya bawa orang sakit, kami tidak punya pilihan selain menunggu”.
Imran, mewakili seluruh masyarakat kecamatan Lampasio mengharapkan agar pemerintah kecamatan dan pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ikut memanfaatkan jembatan-jembatan tersebut agar membantu memperjuangkan pembangunan jembatan baru untuk mengganti jembatan Ogodudu dan jembatan Maibua.
Lain halnya dengan dengan jembatan gantung Silabea, yang juga berada di Desa Oyom Kecamatan Lampasio, setelah tebing penyangga menara jembatan longsor akibat terjangan banjir, jembatan gantung tersebut miring dan melengkung keatas seolah menjadi gerbang selamat datang di area bendung Irigasi Salugan yang sedang dikerjakan di bagian hilir jembatan tersebut.
Satir Musa, Kepala Dusun setempat yang mendampingi RRN saat meninjau lokasi jembatan mengatakan bahwa runtuhnya jembatan yang dibangun tahun 2012 tersebut sebenarnya sudah diperkirakan sejak lama, karena endapan tanah erosi yang terbawa banjir membentuk delta/tanjung di bagian hulu jembatan sehingga dengan adanya tanjung tersebut arah aliran air berubah dan mengarah langsung ke menara jembatan.
“Jembatan ini sudah kami perkirakan akan runtuh pak, sebelum bulan puasa lalu kami hubungi BBWS III Palu dan juga PT.Brantas untuk dibantu meluruskan aliran air sungai, kerena tanjung itu harus segera dihilangkan, supaya sungai tidak lagi langsung mengarah ke menara jembatan, tapi sampai jembatan ini runtuh, belum juga ada perhatian” ungkap kepala dusun.
Dikatakannya bahwa masyarakat kecewa dengan Balai Besar Wilayah Sungai III Sulteng yang tidak memperhatikan aspirasi masyarakat, “kalau sudah begini mau diapakan, biaya perbaikan pasti sangat besar tapi kalau tidak di perbaiki bagaimana kami bisa menyebrang ke kebun, resikonya sangat besar pak, kemarin beberapa orang mencoba merayap diatas jembatan, saya takut jangan sampai ada korban kalau tidak cepat di perbaiki”.
Camat Lampasio Muh. Rifai SH, ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa belum ada informasi resmi yang diterimanya terkait kerusakan jembatan di wilayahnya, “saya sudah dengar tentang jembatan putus, tapi secara resmi belum ada pemberitahuan dari Kepala Desa”.
Ditanyakan tentang adanya rencana beberapa warga untuk meminta dihentikan untuk sementara aktivitas pembangunan bendung irigasi sebagai buntut kekecewaannya, Camat Lampasio mengatakan bahwa langkah itu tidak tepat karena runtuhnya jembatan tidak ada kaitan dengan kegiatan pembangunan irigasi, itu murni factor alam.
Tio, Asisten Manager pada PT. Brantas Abipraya kepada RRN mengatakan, “ memang benar terdapat surat dari kepala desa oyom tentang permohonan perbaikan jalan menuju kebun masyarakat di bagian hulu sungai dari lokasi proyek dan juga permohonan perbaikan jembatan, surat itu ditujukan kepada Balai Besar Wilayah Sungai III Palu dan langsung kami lanjutkan ke Balai Sungai”.
Menurut Tio, surat kepala Desa Oyom tertanggal 6 april 2020 langsung dilanjutkan ke Balai Besar Wilayah Sungai III Palu dan sampai saat ini pihaknya belum mendapakan arahan dari balai sungai terkait hal itu, namun menurutnya pihak balai sungai akan segera membalas surat dari kepala desa oyom.
Lanjut, “untuk permasalahan bantuan akses jalan sudah kami bantu dan sudah digunakan warga setempat, namun untuk perbaikan jembatan berupa pelurusan sungai kami menunggu arahan dari balai sungai, karena pekerjaan pelurusan sungai di bagian hulu jembatan itu setidaknya butuh waktu seminggu dan menyangkut kerusakan jembatan, itu bukan karena adanya aktivitas pembangunan proyek ” ungkap Tio.
Suntoro, Humas PT. Brantas Abipraya pada kegiatan pembangunan irigasi di sibea, kepada RRN mengatakan bahwa pada prinsipnya PT. Brantas tetap siap membantu kepentingan masyarakat setempat, “ya, kami tetap siap membantu masyarakat, hanya saja harus disampaikan secara baik, dan juga harus dimaklumi bahwa perusahaan itu ada aturannya, semua informasi harus kami sampaikan ke management dan pihak pemberi pekerjaan yaitu Balai Sungai, apalagi kalau sudah menyangkut akan keluarnya biaya, jadi saat masyarakat ada permohonan bantuan, tidak mungkin begitu disampaikan langsung bisa kami laksanakan”.
Suntoro juga menambahkan bahwa sebelumnya masyarakat setempat juga mengeluhkan tentang akses jalan ke jembatan dan pihak perusahaan sudah membuatkan akses jalan tersebut.
(Team)






