LUTIM, RRN – Suasana di Permandian Alam Watu Maeta, Dusun Malela, Desa Margolembo, Mangkutana, Sabtu (10/10/2026), berbeda dari biasanya.

Seratus enam puluh ibu-ibu anggota Majelis Taklim dari berbagai desa duduk melingkar di atas terpal biru, bukan di bawah tenda pengajian dengan mimbar dan pengeras suara.
Mereka datang untuk “Kemah Ukhuwah Majelis Taklim”. Kegiatan ini disebut-sebut sebagai yang pertama kali digelar di Kecamatan Mangkutana, dan bahkan disebut belum pernah ada di Indonesia untuk kategori ibu-ibu berkemah.
Saat beberapa rekan pers bertandang, mereka telah berada sehari-semalam di sana. Ketua Panitia, Suwardi, menyebut kegiatannya sengaja dirancang dengan konsep demikian.
“Ini maksudnya dalam perencanaan, kalau momennya, gagasan untuk menciptakan Majelis Taklim, menjadi Majelis Taklim yang terorganisasi dengan baik,” ujar Suwardi saat ditemui di lokasi kegiatan.
Perubahan metode menjadi inti acara. Suwardi menjelaskan bahwa panitia memakai permainan, refleksi, dan lomba sebagai sarana menyampaikan pesan keagamaan. Materi yang disampaikan pun bukan fikih ibadah semata.
“Ada tiga materi yang akan kita sampaikan. Satu tentang ekoteologi. Ekoteologi itu kesadaran memelihara lingkungan. Terus yang kedua manajemen. Yang ketiga parenting,” tuturnya.
Sinergi KUA dan BKMT
Kegiatan ini melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) Mangkutana dan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Mangkutana. Suwardi sendiri tercatat sebagai Kepala KUA Mangkutana, jabatan yang ia emban setelah dilantik pada November 2025 bersama 22 kepala KUA lain di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kepala KMT Mangkutana, Rusdi Daming, menilai kegiatan ini sebagai lompatan bagi Majelis Taklim. Menurutnya, selama ini pengelolaan Majelis Taklim terbatas pada pengajian duduk dan ceramah.
“Makanya, dengan model seperti ini, saya kira ini adalah lompatan yang sangat luar biasa dilakukan oleh ibu-ibu Majelis Taklim,” jelas Rusdi di lokasi yang sama.
Rusdi menekankan bahwa kemah ini bukan sekadar kegiatan hura-hura. Nilai agama, ukhuwah, dan keberkatan antar-Majelis Taklim tetap menjadi fondasi. Ia juga menyoroti pentingnya izin suami bagi peserta.
“Cuma dengan catatan bahwa ibu-ibu yang kita bawa ini harus seizin suami. Jangan sampai nanti ada ibu-ibu yang memaksakan,” imbuhnya.
Dukungan Desa dan Pembiayaan Swadaya
Kepala Desa Margolembo, Abdul Najib, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan yang menjadikan desanya sebagai tuan rumah. Pemerintah desa menyiapkan tempat menggunakan aset desa yang dikelola BUMDes.
“Manfaatnya untuk pembinaan di luar kegiatan ini tetap ada. Kita secara moral tentu pasti bersyukur,” kata Abdul Najib.
Soal pembiayaan, Suwardi menyebut tidak ada anggaran kantor. Kegiatan berjalan berkat gotong royong, sumbangan pengusaha sawit, dan dukungan korporasi.
“Saya tidak ada uang kantor. Ini hanya bentuk panitia. Kita jalan, insyaallah. Banyak teman-teman membantu. Dari pengusaha sawit, pedagang sawit, memberikan uang,” papar Suwardi.
Dukungan korporasi terlihat dari logo “by BSI” pada spanduk kegiatan. Panitia juga mengurus sertifikasi peserta dan administrasi manajemen, termasuk surat keterangan terdaftar bagi Majelis Taklim.
Konteks Kebijakan Kemenag
Kegiatan ini bersinggungan dengan program prioritas Kementerian Agama. Pendataan nasional Majelis Taklim menjadi salah satu program unggulan Kemenag melalui Kelompok Kerja (Pokja) Majelis Taklim.
Berdasar beberapa penelusuran, Asta Protas Kemenag mencakup penguatan ekoteologi atau kesadaran lingkungan berbasis agama. Materi ekoteologi yang diangkat dalam kemah ini selaras dengan program tersebut.
KUA Mangkutana juga terlibat dalam program Early Warning System (EWS) Si-Rukun. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi potensi konflik sosial-keagamaan secara dini, mulai dari tingkat KUA.
Pemilihan Watu Maeta sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Permandian alam berbasis sungai pegunungan ini merupakan objek wisata Desa Margolembo yang dikembangkan sebagai desa wisata, dengan keunikan air sungai jernih dan legenda dua batu terpisah.

Tantangan Keberlanjutan
Suwardi berharap kegiatan ini berdampak pada pengasuhan anak dan kesadaran lingkungan di rumah masing-masing peserta. Ia juga menginginkan kegiatan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
“Kreativitas pelaksanaan, begitu,” ucapnya singkat saat ditanya soal rencana ke depan. Rusdi menutup wawancara dengan pesan agar kegiatan serupa terus digelar. Menurutnya, Majelis Taklim adalah salah satu lembaga dalam agama Islam yang terkuat, sejak masa Nabi sudah ada.
“Karena kegiatan ini juga bukan kegiatan sekadar hura-hura. Tetapi, ada juga nilai agama, nilai ukhuwah, nilai keberkatan antara satu Majelis Taklim dengan Majelis Taklim lainnya,” tandasnya.
Di bawah rindang pohon-pohon besar Watu Maeta, para ibu Majelis Taklim itu bukan hanya berkemah. Mereka sedang mencoba cara baru berdakwah, tanpa mimbar, tanpa ceramah, tetapi dengan permainan, refleksi, dan alam sebagai madrasah.

(***)






