Sulap Limbah Kulit Jeruk Bali Jadi Scrub Dan Masker Herbal, Tim PKM Kimia UNM Berdayakan Ibu Rumah Tangga Di Sapanang

PANGKEP, RRN — Limbah kulit jeruk bali yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah kini punya nilai ekonomi baru di tangan ibu-ibu rumah tangga Kelurahan Sapanang. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Terpadu Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar, kulit buah yang biasa dibuang itu diolah menjadi scrub alami dan masker herbal berbasis prinsip kimia hijau.

Kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk Bali sebagai Bahan Scrub Alami dan Masker Herbal untuk Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Berbasis Kimia Hijau” ini berlangsung selama tiga hari, 23 hingga 25 April 2026, di Kelurahan Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Program diikuti oleh 27 ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK Kelurahan Sapanang.

Bacaan Lainnya

Ketua tim pengabdian, Dr. Suriati Eka Putri, M.Si. menjelaskan bahwa pemilihan kulit jeruk bali bukan tanpa alasan. Wilayah Bungoro dikenal sebagai salah satu sentra jeruk bali di Pangkep, namun pemanfaatannya masih terbatas pada daging buah saja.

“Kulit jeruk bali menyumbang hampir separuh bobot buahnya dan selama ini menjadi limbah. Padahal kandungan minyak atsiri, flavonoid, dan vitamin C di dalamnya sangat potensial untuk produk perawatan kulit,” ujar Suriati. “Yang kami tekankan di sini adalah pendekatan kimia hijau: prosesnya sederhana, memakai pelarut yang aman, minim energi, dan tidak menghasilkan limbah baru” ungkap Rini Perdana yang merupakan salah satu anggota tim Pengabdi.

Dari Teori ke Praktik Langsung
Hari pertama diisi dengan penyampaian materi mengenai prinsip kimia hijau, potensi senyawa aktif dalam kulit jeruk bali, serta sanitasi dan keamanan produk perawatan kulit rumahan. Peserta juga diperkenalkan pada cara memilah dan mengeringkan bahan baku agar tidak mudah berjamur.

Memasuki hari kedua, peserta langsung mempraktikkan pembuatan produk. Hari ketiga difokuskan pada aspek keberlanjutan usaha, mulai dari pengemasan, pelabelan produk, penghitungan biaya produksi sederhana, hingga strategi pemasaran melalui media sosial.

Salah seorang peserta mengaku tidak menyangka bahan yang selama ini ia buang bisa diolah menjadi produk bernilai jual.
“Ternyata caranya tidak sulit dan bahannya ada di dapur sendiri. Kami jadi punya kegiatan yang bisa menambah penghasilan keluarga,” katanya.

Dukungan Pemerintah Kelurahan
Lurah Sapanang, Amiruddin Halim, SE., M.Si., menyambut baik pelaksanaan program ini dan berharap kegiatan serupa dapat berlanjut.

“Kami berterima kasih kepada Jurusan Kimia FMIPA UNM. Kegiatan ini tepat sasaran karena menyentuh langsung ibu-ibu rumah tangga dan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Tim pengabdian yang beranggotakan Rini Perdana dan Sumiati Side serta melibatkan 2 orang mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA UNM ini melakukan pendampingan lanjutan untuk memantau keberlanjutan produksi dan membantu pengurusan perizinan produk rumah tangga.

Selain memberikan keterampilan baru, program ini diharapkan berkontribusi pada pengurangan limbah organik di tingkat rumah tangga sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

(***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *