Bentrok Mahasiswa dan Aparat Kepolisian Warnai Aksi Unjuk Rasa di DPRD Enrekang: HMI Suarakan Lima Tuntutan Soal Lingkungan

ENREKANG, RRN — Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Enrekang pada Kamis, 19 Juni 2025, berlangsung tegang dan berakhir dengan bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Aksi ini digelar di dua lokasi penting, yakni Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Enrekang dan Gedung DPRD Kabupaten Enrekang.

Sejak pagi, massa mahasiswa mulai berkumpul dan melakukan orasi secara bergantian sambil membentangkan spanduk berisi tuntutan dan kecaman terhadap pemerintah daerah serta DPRD yang dianggap lalai dalam menjaga kelestarian lingkungan di Bumi Massenrempulu.

Bacaan Lainnya

Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama, antara lain:
• Menuntut penutupan tambang galian C ilegal — Mahasiswa menuding masih banyak aktivitas pertambangan galian C yang beroperasi tanpa izin resmi (ilegal) di sejumlah wilayah Enrekang. Aktivitas ini disebut merusak lingkungan, memicu longsor, serta berdampak buruk bagi masyarakat sekitar.
• Mempertanyakan pengawasan DPRD terhadap alih fungsi lahan — HMI menyoroti lemahnya pengawasan DPRD terhadap alih fungsi lahan pertanian dan hutan menjadi kawasan industri atau perumahan, yang dianggap tak sesuai dengan tata ruang dan berdampak pada ekosistem.
• Mendesak evaluasi kesesuaian peruntukan lahan — Mahasiswa meminta agar DPRD bersama pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesesuaian fungsi lahan, agar tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan ruang yang merugikan kepentingan publik.
• Menuntut perlindungan terhadap kelestarian lingkungan — HMI menuntut DPRD dan Pemkab Enrekang agar membuat kebijakan konkret yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, termasuk perlindungan sungai, hutan lindung, dan kawasan rawan bencana.
• Mendesak penyelesaian persoalan pengelolaan sampah — Mahasiswa menilai bahwa persoalan sampah di Enrekang masih belum ditangani secara serius. TPS dan TPA belum memadai, edukasi masyarakat minim, dan tidak ada pengawasan ketat terhadap pelaku pencemaran.

Aksi Ricuh dan Bentrok Terjadi
Ketegangan mulai memuncak saat mahasiswa berusaha mendekat ke pintu utama gedung DPRD untuk menyampaikan aspirasi langsung ke para wakil rakyat.

Aparat kepolisian yang berjaga mencoba menghalangi pergerakan massa. Saling dorong pun tak terhindarkan. Sejumlah mahasiswa tampak terlibat bentrok fisik ringan dengan aparat. Beberapa di antaranya terjatuh dan sempat dilarikan ke tempat aman oleh rekan-rekannya.

Situasi sempat memanas, namun dapat dikendalikan setelah aparat menenangkan massa dan perwakilan mahasiswa diizinkan menyampaikan aspirasinya secara tertulis kepada pihak DPRD.

Pernyataan Koordinator Aksi
Koordinator aksi, dalam orasinya, menyampaikan bahwa aksi ini bukan sekadar protes, melainkan seruan moral dan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran. Ia juga mengecam keras sikap DPRD yang dinilai pasif dan terkesan abai terhadap keluhan masyarakat.

“Kami datang bukan untuk membuat keributan. Kami datang untuk menyelamatkan masa depan Enrekang. Pemerintah dan DPRD jangan hanya duduk manis menerima laporan, tapi harus turun ke lapangan dan mendengar jeritan rakyat,” tegasnya.

Tanggapan Awal Pihak Keamanan
Sementara itu, pihak kepolisian yang mengamankan jalannya aksi mengakui bahwa ada sedikit insiden bentrok, namun dapat segera dikendalikan. Hingga sore hari, situasi sudah kembali kondusif dan massa aksi membubarkan diri dengan tertib.

Kapolres Enrekang melalui Kasat Intelkam menyampaikan bahwa pihaknya akan tetap mengawal hak demokrasi mahasiswa, namun juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban umum.

Belum Ada Pernyataan Resmi DPRD
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak DPRD Kabupaten Enrekang terkait tuntutan yang disampaikan oleh mahasiswa.

Namun, dari informasi yang dihimpun, surat tuntutan resmi dari HMI telah diterima oleh bagian sekretariat DPRD dan dijanjikan akan diteruskan ke pimpinan untuk dibahas lebih lanjut.

Aksi ini menjadi sorotan publik dan media lokal, terutama karena isu lingkungan yang disuarakan memang menjadi perhatian banyak pihak, termasuk para aktivis, warga desa, dan pegiat lingkungan di Enrekang.

(Yudi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *