LUTRA. RRN- Banjir bandang yang terjadi 13 Juli lalu, meninggalkan cerita pilu seorang ibu rumah tangga ketika terjadi bencana banjir bandang, di Kab Luwu Utara, yang mana putrinya “CIA” yang berumur 4 tahun, terseret arus ketika air meluap hingga memporak porandakan perkampungan mereka. Tepatnya, di Radda, Kec Baebunta.
Dalam kisahnya mengenang kejadian itu, kepada Crew RadarReportaseNews. Co.id, ketika di sambangi di rumah mertuanya di Kota Masamba. Kamis, 23 Juli 2020 sekira pukul 15.00 WITA.
Keharuan sangat nampak sekali di raut wajahnya ketika menerima kedatangan Crew RadarReportaseNews. Co. Id.
” Hilda, ibu Rumah Tangga yang berumur 25 tahun, ibu dari 3 orang anak ini mengatakan, bahwa kejadian itu datangnya secara tiba tiba sehingga membuat kami panik, entah mau apa dan berbuat bagaimana, menghadapi bencana banjir pada waktu itu. ” Ujarnya
Apa lagi kejadianya pada malam hari, dan suasananya gelap gulita. Hanya suara gemuruh dan suara teriakan, minta tolong disertai tangisan yang kedengaran.
” Sehingga, membuat suasana semakin mencekam dan menakutkan,” Ucap nya sambil menyeka air matanya mengenang kejadian itu.
Lanjutnya, Pada waktu kejadian, saya bersama dengan dua orang anak ku
yang berumur 6 tahun dan 4 tahun. Waktu itu, air sudah batas pinggang orang dewasa, dan mungkin hanya berselang 3 menit air sudah di batas leher.
” Tidak ada jalan lain, kecuali berusaha menyelamatkan diri. Namun, apa daya air sangat deras berjuang untuk menyelamatkan diri di tengah derasnya air dan tumpukan kayu.” Ungkapnya
Disitulah, awal petaka bagi kami bertiga sehingga membuat kami berpisah dan tenggelam. Karena, terseret arus dan di tabrak kayu.
” Saat itu, saya hanya pasrah akan musibah tersebut. Namun, Alhamdulillah, di tengah deras nya arus akhirnya saya tersangkut di kawat besi, menyebabkan kaki luka, dan robek, dan anak pertama juga sudah terselamatkan. Karena, sempat ada masyarakat melihat dan berusaha menolong nya.” Jelaskan Hilda
Namun, yang membuat saya sangat sedih pada waktu itu karena anak kedua yang berumur 4 tahun belum juga ketemu. Pasca, tengelam nya kami bertiga hingga terseret arus. Dan kalau saya menggambarkan perasaan saya pada waktu itu, sangat susah untuk menerima nya. Karena, di saat saya terlepas dengan “CIA” masih sempat mendengar suara nya memanggil ‘MAMA”,tolong….
” Pada waktu itu, saya berpikir mungkin ini sudah suara terakhir anakku. Tuhan perdengarkan ke saya, dan juga masih melihat “CIA” di bawah arus, tapi tidak ada kekuatan untuk menolong nya, dan pada akhirnya saya pasrah, dan berdoa untuk keselamatan anak anak ku.” Urai Hilda dalam kepasrahannya
Alhamdulillah, kuasa Allah, ketika sudah berada di pengungsian, saya sudah bertemu dengan suami bersama anak yang bungsu, dan anak pertama dalam kondisi selamat di situlah kesedihan dan keperihan yang sangat aku rasakan. Karena, “CIA” belum juga ada kabarnya.
” Akhirnya, saya bersama suami berusaha ikhlas, dan memutuskan melakukan pencarian terhadap “CIA” setelah air surut.” Ungkapnya
Di tengah rasa ke khawatiran yang sangat luar biasa, sontak saya di kagetkan dengan info bahwa ada anak perempuan yang ditemukan kondisinya sehat, tidak ada luka luka, namun orang tuanya tidak di ketahui.
Saat itu juga, ” Saya menyampaikan ke suami saya untuk menjemput. Karena, itu anak kita, dan Alhamdulillah naluri dan firasat seoang ibu yang di barengi dengan doa. Akhirnya, benar “ALLAH” mempertemukan kami semua. Setelah, kurang lebih satu jam kami terpisah dalam keadaan selamat.” Tuturnya
Hilda juga menambahkan, bahwa anak nya di temukan masyarakat di daerah Kelapa Gading, dalam suasana tidak di sengaja sebab yang menemukan “CIA” hanya ingin mencari motor nya yang hilang di bawa arus, dan tiba tiba mendengarkan suara tangisan di malam yang gelap gulita.
” Akhirnya, bapak itu memutuskan menghentikan pencarian motornya dan menolong anak saya untuk di antar ke pengungsian. Dan di situlah dengar kabar, bahwa ada anak perempuan ditemukan, ternyata dia adalah ANAK KU.” Pungkasnya
Di kesempatan itu juga, crew RadarReportaseNews. Co. Id, sempat mengambil dokumentasi berupa foto CIA, atas ijin dan restu ibu Hilda. Untuk kami publish sebagai bahagian dari rangkaian kejadian banjir bandang 13 juli pekan lalu. (Hrm/By)







