MAKASSAR, RRN (29 Juni 2025) — Ketua Aliansi Media Jurnalis Independen Republik Indonesia (AMJI-RI) Sulawesi Selatan menyuarakan seruan yang menyentuh hati: jadikan masjid bukan sekadar tempat sujud, tapi tempat lahirnya generasi yang kuat, cerdas, dan beriman. Masjid bukan hanya rumah ibadah, tapi rumah pulang bagi generasi muda yang hari ini semakin jauh dari nilai-nilai spiritual di tengah gelombang digitalisasi.
Melalui program “Wifi Gratis di Masjid”, AMJI-RI Sulsel mengajak seluruh takmir masjid untuk melihat lebih dalam: bukan hanya membangun menara dan kubah, tapi membangun ruang yang merangkul anak muda. Ini bukan sekadar infrastruktur teknologi, melainkan jembatan menuju pembinaan, pembelajaran, dan perubahan.
Hari ini, kita menyaksikan fenomena yang tak bisa diabaikan: remaja duduk berjam-jam di pinggir jalan, warung kopi, bahkan tempat parkir demi mencari koneksi wifi. Mereka bukan sekadar berselancar di dunia maya, mereka sedang mencari ruang untuk mengekspresikan diri—tempat untuk didengar, dihargai, dan dimengerti.
Lalu mengapa bukan masjid yang menyediakan ruang itu?
Mengapa bukan masjid yang menjadi tempat mereka berkumpul, mengakses dunia digital, sambil tetap berada dalam lingkup nilai dan kebaikan?
> “Bayangkan jika mereka datang bukan ke kafe, tapi ke masjid. Duduk di serambi rumah Allah, tersambung dengan internet—dan sekaligus dengan hidayah,” ujar Ketua AMJI-RI Sulsel.
Wifi hanyalah pintu awal. Di baliknya terbuka cakrawala luas: pelatihan IT dasar, konten dakwah digital, media sosial yang bermuatan nilai, hingga karya-karya jurnalistik yang menginspirasi. AMJI-RI Sulsel percaya, jika diberi ruang, para remaja akan memilih untuk mengisi dunia maya dengan pesan kebaikan—bukan provokasi atau konten hampa.
Mereka akan menjadi dai digital yang ramah dan cerdas, kreator konten yang menebar semangat hijrah, serta jurnalis muda yang menyalakan cahaya di tengah gelapnya informasi palsu.
Masjid tidak boleh hanya megah secara fisik, tapi harus hidup secara ruhani. Jangan biarkan sajadah terbentang di dalam, sementara anak-anak muda kita tersesat di luar pagar masjid. Jangan sampai suara azan hanya bergema di speaker, tapi tak menggema dalam hati generasi.
> “Kami tidak meminta masjid berubah fungsi. Kami mengajak agar masjid kembali pada ruhnya—sebagai pusat kehidupan umat. Tempat ilmu ditanam, adab ditumbuhkan, dan harapan dipupuk.”
AMJI-RI Sulsel dengan penuh harap menyerukan kepada seluruh takmir dan pengurus masjid:
Hadirlah untuk generasi ini. Hadirkan wifi gratis. Hadirkan program pembinaan. Hadirkan masa depan.
Karena dari ruang-ruang itu, akan tumbuh pemuda-pemudi yang bukan hanya cerdas pikirannya, tapi juga jernih hatinya. Dan dari beranda masjid, mereka akan melangkah ke dunia—bukan sebagai pengikut arus, tapi sebagai cahaya di tengah zaman.
(***)






